Media Platform Baru Sulawesi Barat

Jauh-Dekat Jarak Covid19

0 337

Belakangan ini rumusan sosial kebudayaan terlihat sibuk mengafirmasi jarak persinggungan sosial manusia hanya dalam ukuran jauh dan dekat. Utamanya setelah munculnya sebuah istilah social distancing (persinggungan sosial) manusia yang dipahami sebagai tindakan pengendalian penyebaran virus endemik mematikan bernama covid19.

Arti jarak pada konteks social distancing manusia yang kini dihimbau saling menjaga jarak minimal 1 meter. Jarak sosial itu, bisa jadi sudah lama menggejala dalam prinsip hidup berkebudayaan manusia. Jauh sebelum virus covid19 mewabah, persinggungan sosial kemanusian hanya terlihat intim secara fisik, tapi teramat jauh dalam persinggungan batin, rohani, bahkan psikologis kemanusian.

Padahal, dari hari ke hari grafik pergerakan covid19 terkesan kian agresif, lincah, senyap, bahkan begitu radikal menyerang sistem imunitas tubuh manusia. Ia seolah ingin mengabarkan betapa rentang hubungan-jarak sosial antar manusia. Meski ia sendiri tidak lagi mengenal jarak, bahkan terasa begitu dekat. Saking dekatnya, ia begitu gampang menghancurkan batas antara orang miskin, kaya, agamis, reformis, nasionalis, pejabat negara, bahkan ateis sekalipun tak luput dari target serangannya.

Daku tidak begitu pandai memahami jarak. Jarak yang biasanya sangat mengenal batas. Batas yang dapat menjadi panduan, pegangan dan patokan arah dari kompas kehidupan manusia. Covid19 justru berbeda, ia seolah tidak butuh pedoman, tidak butuh aba-aba, seolah tiada penangkal, ia bebas menjalar ke mana-mana. Ia seolah unjuk kekuatan dalam menjejaki jarak bahkan sampai menerobos batas norma kepatutan, tata nilai, adab-etika bahkan estetika kemanusiaan.

Manusia yang terlanjur piawai merayakan kebenaran kelompok, ras, ideologi, haluan politik dan agamanya sendiri, sembari menuding segala dimensi kehidupan manusia lain yang berseberangan atau berjarak dengannya sudah pasti salah. Namun lucunya, segala bentuk keangkuhan, kesombongan yang selama ini dibela, akhirnya harus menyerah menghadapi kenyataan dari aroma mengerikan yang terus di tiupkan virus Covid19.

Manusia tidak lagi sanggup mendebati, menyalakan, bahkan menolak kenyataan yang terus dihela virus covid19. Padahal sebelumnya, covid19 tidak terbiasa menyinggung, menyudutkan bahkan nyinyir dan saling menyalahkan antar sesama virus. Ia seolah hanya berdenyar tanpa cahaya. Bertalu tanpa bunyi. Laksana angin yang hembusannya terasa tapi tak kasatmata.

Covid19 hanya mampu menyata lewat tafsir jarak. Jarak yang mestinya memunculkan kerinduan atas nilai agung manusia dengan segala perangkat nilai kebudayaannya. Begitu panjang jarak perjalanan covid19 yang diklaim para ahli, awalnya hanya menyerang hewan, lalu menyebar ke manusia dan dengan sigap-menyergap manusia lainnya.

Jarak penyebaran dan perkembangan kemampuan covid19 seolah sudah melewati rangkaian prosedur panjang, dari pola metamorfosis, bahkan sistem teori dan hukum evolusi yang dikenal manusia. Semoga covid19 tidak lagi sigap dan liat mengekang gerak persinggungan sosial manusia. Persinggungan yang alamiah, intim, di dorong oleh rasa senasib sepenanggungan.

Mirip kedekatan fisik dan batin manusia ketika duduk berjejer di atas angkot atau pete-pete, seraya menyaksikan pesan kesetaraan (equality) dari stiker usang yang biasa diacuhkan dan tetap tertempel di pintu mobil, “jauh-dekat: Rp. 5.000” Aduhai, indahnya..

Penulis: Abdul Muttalib Pecinta burung perkutut yang tinggal di Tinambung.

Leave A Reply

Your email address will not be published.