Media Platform Baru Sulawesi Barat

Wagub Sulbar Dukung Pengembangan Pertanian Metode Hazton

0 259

TELEGRAPH.ID, POLMAN — Wakil Gubernur Sulawesi Barat (Sulbar), Hj Enny Anggraeni Anwar, dukung pengembangan model pertanian pemupukan yang tepat guna atau metode hazton yang dikembangkan Bank Indonesia melalui pemberdayaan Gabungan Kelompok Tani (Gapoktan) Sipatuo di Desa Indo Makkombong, Kecamatan Matakali, Kabupaten Polman.

“Dengan adanya pemupukan yang tepat guna ini, maka hasil produktivitas padi semakin meningkat, ini tentu dapat menjadi salah satu alternatif atau solusi menekan inflasi dengan menjamin tersedianya pasokan beras,”kata Enny saat menghadiri panen raya, Selasa (16/3/2021).

Menurut Enny, salah satu komoditas pertanian yang terus mengalami peningkatan produksi adalah padi, sehingga optimisme perekonomian Sulbar akan semakin berkembang bisa terwujud karena diproyeksikan permintaan akan turut meningkat.

“Untuk itu, sinergi antara pemerintah daerah, Bank Indonesia dan stakeholders terkait menjadi faktor penting, kemudian membutuhkan penguatan dari sisi data neraca produksi dan konsumsi bahan pangan oleh OPD terkait sehingga seluruh upaya kita dapat berjalan dengan optimal,”tutur Enny.

Kata dia, panen bersama merupakan wujud sinergi dan inovasi dalam menciptakan optimalisasi lahan pertanian untuk mewujudkan Sulbar menjadi salah satu lumbung padi nasional yang bisa mendorong pemenuhan permintaan padi.

Disebutkan, berdasarkan data yang diperoleh dari BPS, bahwa produksi padi setara beras pada tahun 2020 sebesar 319.166 ton, meningkat dibandingkan tahun 2019 yang menghasilkan sebesar 300.142 ton.

“Ini menunjukkan Sulbar memiliki potensi yang besar dalam komoditas beras, baik dari aspek konsumsi maupun aspek produksinya, dari Desa Indo Makkombong ini kita jadikan contoh untuk selanjutnya dilakukan di Desa-desa lain di semua kabupaten di Sulbar,”pungkasnya.

Kepala Bank Indonesia (BI) perwakilan Sulbar, Budi Sudaryono mengatakan, Bank Indonesia sebagai Bank Sentral, memiliki tugas dan wewenang menetapkan dan melaksanakan kebijakan moneter.

“Seperti yang telah kita ketahui bersama, beras sebagai bahan pangan utama di masyarakat, memiliki pangsa yang besar terhadap pengeluaran di masyarakat,”katanya.

Sehingga, apabila terjadi kenaikan harga beras sedikit saja di masyarakat akan berdampak signifikan pada pencapaian inflasi di daerah.

“Mencermati kondisi tersebut, kami di Kantor Perwakilan Bank Indonesia Provinsi Sulbar turut berperan aktif dalam melakukan model pengembangan klaster padi,”ujarnya.

Budi juga mengatakan, Gapoktan Sipatuo dibina oleh BI Sulbar sejak tahun 2016, Pada saat awal pembinaan, BI Sulbar fokus untuk meningkatkan produksi dan produktivitas klaster, antara lain melalui implementasi metode hazton.

“Metode hazton adalah metode tanam yang menggunakan bibit secara lebih banyak dan lebih tua yang membuat hasil tanam lebih tahan terhadap hama dan produktivitas yang lebih tinggi. Sebelumnya produktivitas sebesar 4-5 ton/hektar, namun setelah menerapkan metode hazton ini produktimtas meningkat menjadi 9-10 ton/hektar,”katanya.

Melalui Program Dedikasi untuk Negeri, Bank Indonesia di tahun lalu, telah memberikan bantuan teknis berupa mesin Rice Transplanter Hazton sebanyak tiga unit sebagai strategi Intensifikasi pertanian.

“Pembinaan juga dilakukan dari sisi penguatan kelembagaan, antara lain melalui pelatihan manajemen keuangan, manajemen usaha dan pembentukan koperasi, agar produktivitas yang meningkat mampu berkontribusi secara positif dalam peningkatan kesejahteraan seluruh anggota petani di Gapoktan Sipatuo,”tuturnya.

Gapoktan Sipatuo pada 2019 lalu, berhasil mendapatkan penghargaan sebagai Klaster Terbaik Pendukung Ketahanan Pangan dalam rangka Pengendalian Inflasi yang diberikan secara langsung oleh Presiden RI, Joko Widodo.(adv/rls).

Leave A Reply

Your email address will not be published.