Media Platform Baru Sulawesi Barat

Fahri Hamzah Sebut Jokowi Hanya Baca Dua Lembar Buku Setahun, Juga Sebut Pemerintah Berdosa Karena Ini

0 77

Fahri Hamzah Sebut Jokowi Hanya Baca Dua Lembar Buku Dalam Setahun, Hingga Sebut Pemerintah Berdosa Karena Ini

Telegraph.id, MAMUJU – Wakil Ketua DPR RI, Fahri Hamzah, menyebut Presiden Joko Widodo, tidak memberikan contoh literasi yang baik bagi bangsa Indonesia.

Akibatnya, keganrungan nasional akan leterasi sangat kurang. Sehingga babgsa Indonesia berada dalam ancaman besar tradisi literasi. Jika tidak kembali pada tradisi literasi yang sebenarnya.

“Tradisi membaca teks lama atau tradisi membaca sejarah yang utuh harus dikembalikan,”kata Fahri Hamzah pada acara Ngobrol Inspirasi (Ngopi) dan Bincang Literasi bersama pegiat literasi di Warkop Teras Aksar, Jl Pababari, Mamuju, Senin (11/2/2019).

Ia mengatakan, saat ini terjadi mis dalam hal konsep literasi di Indonesi, banyak yang tidak mengetahui manfaat literasi dalam kehidupan.

“Termasuk banyak pejabat tidak memahami manfaat tradisi literasi dalam kehidupan,”ujarnya.

Menurut mantan politis PKS itu, jika tidak dipahami bahwa membaca adalah awal dari segala-galanya serta gagal dalam meyakinkan rakyat, maka saat itu pula kita telah memulai kegagalan.

Dikatakan, di tengah kegandrungan masyarakat, organisai dalam meningkatkan tradisi literasi, namun tidak terlihat contoh yang baik dari pemimpin.

“Bahkan waktu kemarin, presiden mengekspos adegan yang menurut saya sangat merugikan bangsa Indonesia. Ketika dia mengatakan, bahwa kerjaannya itu kalau kosong dia bilang disuplai komik sama anak-anaknya. Waktu ditanya, apakah bapak membaca buku politik dibilang enggak-enggak. Dia bilang begitu, kecuali Soekarno. Soerkarno saya enggak tau disitu, bukunya atau apanya yang dibaca,”tutur Fahri Hamzah.

Penyataan orang nomor satu di Indonesia itu, kata dia, mengirim sinyal, bahwa tidak terlalu mengerti manfaat tradisi literasi, tradisi ilmu pengetahuan dan membaca. Padahal semuanya dimulai dari situ.

Ia juga mengatakan, sebuah bangsa yang didalamnya ada tradisi tawuran, itu dikarenakan masyarakatnya malas membaca.

“Saya diberi tahu tadi, katanya orang Indonesia ini tradisi membacanya sangat kurang, hanya dua lembar setahun. Rata-rata ya, enggak usah tersinggung yang suka baca buku. Mungkin maksudnya kaya Pak Jokowi begitu, membaca hanya dua lembar setahun gitu,”katanya disambut tawa para pegiat literasi.

“Silahkan dibantah kalau enggak setuju gitu. Itu perasaan saya kalau Pak Jokowi itu hanya baca buku dua lembar setahun. Kalau komik katanya agak banyak, Robin hood, Doraemon dan si Juki,” sambung pria kelahiran Sumbawa Nusa Tenggara Timur itu.

Fahri menegaskan, Ia selalu mengkritik pak Jokowi karena telah mereduksi makna bangsa. Kata dia, Jokowi telah menempatkan makna bangsa pada pembanguna fisik.

“Bicara persatuan dia bilang jalan tol. Padahal Indonesia tidak pernah disatukan oleh jalan atau jembatan,”kata dia.

Indonesia ini, lanjut Fahri, telah disatukan oleh pikiran, melalui pidato orang-orang pendahulu, lewat radio tradisional.

“Kita mendengar karena kita hargai pemikiran pemimpin kita dahulu. Belum ada media seperti sekarang. Pidatonya padat sekali isinya. Kita seperti disatukan dalam rasa yang keluar dari mulutnya. Sehingga perasaan berbangsa muncul, maka sulawesi bergabunglah dengan jawa,”begitu katanya.

“Jadi bukan karena transportasi umum, bukan karena ada jalan tol. Bukan karena ada tol laut yang dikatakan pak Jokowi. Tapi karena pikiran, bangsa ini akan tetap ada kalau pikirannya tetap ada,”lanjutnya.

Katanya, bangsa ini akan hilang tinggal nama, apabila keganrungan pemimpin tidak lagi menghargai pikiran masyarakatnya.

“Saya juga mau katakan, dosa paling besar pemerintah kita sekarang adalah membuat pikiran tidak nyambung. Karena memang pemimpin kita tidak nampang kegangrungan berpikinya,”ujarnya.

“Katanya kerja-kerja-kerja, eh rupanya karena tidak bisa berpikir,”ucapnya.

Fahri juga mengatakan, bahkan sering diulang-ulang, katanya, yang merusak dunia ini, adalah dua jenis manusia. Pertama adalah yang berpikir tampa bekerja. Kedua yang bekerja saja tampa berpikir.

“Inilah kira-kira yang terjadi sekarang,”tuturnya.

(dih/red)

Leave A Reply

Your email address will not be published.