Media Platform Baru Sulawesi Barat

Menakar Produksi Pangan dan Kesejahteraan Petani di masa Pandemi Covid 19

0 618

TELEGRAPH.ID, MAMUJU – Menakar Ketahanan Pangan dan Kiat Mendorong Ekspor Produk Pertanian. Demikian tema Diskusi Nasional Pangan dan Ekonomi menghadapi pendemi Covid 19.

Diskusi berlangsung secara daring melalui Zoom Meeting pada Sabtu, (9/5/2020). Kegiatan diskusi diprakarsai Departemen Cendekiawan BPP Kerukunan Keluarga Sulawesi Selatan (KKSS) di Jakarta. Hadir sebagai Nara Sumber adalah Ketua Umum Perhimpunan Agronomi Indonesia (Peragi) Prof. Dr. Ir. Andi Muhammad Syakir, M.Si dan Sekretaris Ditjenbun Kementan RI Dr. Ir. Antario Dikin, MScl.

Diskusi nasional dihadiri 200 ratusan pakar pertanian seluruh Indonesia. Para pakar pertanian berasal dari Perguruan Tinggi, BPTP seluruh Indonesia, Lembaga Penelitian bidang Pertanian dan praktisi pertanian.

Dalam diskusi tersebut Prof Syakir mengatakan, cadangan pangan tiga bulan ke depan masih aman. Perkiraan total surplus stok beras sampai akhir Juni 2020 sebesar 6.4 juta ton. Masih sangat cukup untuk stok pangan 3 bulan kedepan.

Namun demikian diperlukan diversifikasi pangan. Bukan hanya beras sebagai makanan pokok. Di masa yang datang perlu terus dikembangkan sumber pangan lain selain beras. Menurut Ketua Peragi ini pengembangan pangan lokal dengan lebih masif untuk menekan ketergantungan terhadap pada pangan beras.

Sementara itu Sekretaris Ditjenbun Kementan RI Dr. Antario Dikin, mengatakan, salah satu permasalahan eksport komoditi perkebunan saat pendemi covid 19 adalah beberapa negara tujuan ekspor melakukan Lockdown dengan menutup pelabuhan-pelabuhan mereka.

Beberapa komoditi perkebunan sangat terganggu dengan kebijakan ekspor beberapa negara tujuan ekspor.

Jafar Hafsah sebagai pemateri pembahas dalam kesempatan itu menuturkan, volume makanan disaat pendemi Covid 19 tidak berkurang. Sehingga produksi pangan tidak boleh berhenti. Dampak Covid 19 terhadap produksi pangan khususya padi tidak terlalu terpengaruh. Namun, terpengaruh terhadap secara ekonomi terhadap petani.

Sehingga menurut Jafar, segera melakukan percepatan pertanaman padi. Selain itu, pemerintah benar-benar memfokuskan pada produksi pertanian.

Hadir dalam diskusi Akademisi Sulbar Harli A. Karim. Menurut Harli sektor pangan adalah sektor yang sangat vital dalam menghadapi efek Covid 19. Pemerintah harus cakap dan bijak dalam memutuskan kebijakan pangan dalam situasi sulit seperti sekarang ini.

Kata Harli, kebijakan tersebut akan sangat berpengaruh terhadap ketahanan pangan dan kesejahteraan petani. Meskipun stok pangan aman dalam 3 bulan ke depan (menurut Kementan).

Ketua Program Studi Agroteknologi Unasman ini, dampak ekonomi menurun jusrtu akan banyak dialami oleh petani-petani sebagai produsen pangan. Jutaan petani (lebih dari 60 %) produsen pangan adalah petani kecil sebagai penggarap. Mereka saat ini sangat terpuruk dengan dampak Covid 19 ini. Kebijakan yang salah akan berdampak besar terhadap produksi ketahanan pangan dan kesejahteraan petani.

Selain itu menurut Harli setelah ada kebijakan pangan, tentunya hal yang paling penting adalah pengawasan dan pengawalan. Kadang terjadi, kebijakan tidak menghasilkan output yang bagus karena ketidaksinkronan dengan kebijakan pemerintah daerah.

(ILU/HRL)

Leave A Reply

Your email address will not be published.