Media Platform Baru Sulawesi Barat

Warga Aholeang dan Rui yang Masih Resah, Lokasi Baru Mereka Belum Jelas

0 274

TELEGRAPH.ID, MAJENE – Hampir sebulan bencana alam gempa bumi Sulbar berlalu. Kejelasan nasib untuk lokasi hunian yang baru bagi warga Dusun Aholeang dan Rui Desa Mekkatta Kecamatan Malunda Kabupaten Majene belum juga menemukan kejelasan.

Kini sudah hampir satu bulan pula mereka menghabiskan waktu di tenda pengungsian. Hidup di tenda berukuran 4×6 dengan alas terpal atau tikar seadanya, begitu serba terbatas. Saat siang mereka kepanasan dan saat malam mereka kedinginan karena tempat hunian masih sangat minim perlindungan.

Keinginan untuk kembali ke kampung sudah tidak ada, sebab, rumah mereka hancur, tanah yang retak. Tanah longsor yang bisa terjadi kapan saja, membuat mereka takut untuk kembali.

Salah seorang warga Sarbidin menuturkan, warga kini resah, lokasi hunian tetap atau lokasi baru hingga kini belum jelas.

“Masyarakat di dua Dusun ini, tidak ada niat lagi untuk kembali ke kampung mereka,” ungkapnya.

Sarbidin menjelaskan, warga berharap agar bisa menetap di lokasi tempat mereka mengungsi saat ini. Karena lokasi tersebut dianggap strategis, apalagi kata Sarbidin, pemilik tanah yang menjadi lokasi pengungsian saat ini bersedia untuk menjual tanahnya. 

“Saya sudah hubungi yang punya tanah, artinya sudah siap untuk dijual, cuma yang kita tidak tau ini masalah harga,” bebernya.

Sarbidin mengatakan, beredar issu bahwa mereka akan direlokasi jauh dari perkampungan. Padahal, jika harus memilih, mereka tak ingin jauh dari kampung mereka sebelumnya.

Sarbidin bilang, tak ingin direlokasi jauh karena didekat kampung mereka, masih ada tanah garapan yang dikelola selama ini menjadi sandaran dalam memenuhi kebutuhan hidup.

“Masyarakat harapannya disekitaran sini karena lokasinya dekat dengan kebun,” terangnya.

Sementara itu Sekretaris Desa Mekkatta Jahaman menjelaskan, lokasi hunian baru sudah ada titik terang.

“Pak Camat menghubungi saya terkait masalah data yang akan di relokasi nama dusun sudah saya serahkan Dusun Aholeang dan Rui beserta jumlah KK nya,” jelasnya.

Pihaknya pun, sudah berkomunikasi dengan pemilik lahan yang kini menjadi lokasi pengungsian. Kata Jahaman, sang pemilik memang berniat untuk menjual lahannya.

“Jadi saya juga sudah berkomunikasi dengan yang punya lokasi, rencanaya itu dijual tinggal bagaimana pemerintah daerah berkomunikasi dengan pemilik lahan tersebut,” terangnya.

Lahan tersebut luasnya kurang lebih satu hektar, saat ini menurutnya tinggal bagaimana pihak pemerintah daerah untuk membangun kesepakatan harga.

“Karena sependengar saya dia menjual lokasi ini beserta tanamannya (pohon kelapa), mudah mudahan pemerintah daerah sanggup untuk itu,” harapnya.

“Mudah-mudahan bisa dikasi masuk di penganggarannya, karena untuk penyusunan Anggaran di Kabupaten saat ini belum ada penetapan, Penetapannya kalau bukan bulan ini sampai bulan tiga,” sambungnya.

Jahaman menejelaskan akan terus berkomunikasi dengan pemerintah Kabupaten Majene agar masalah relokasi bagi masyarakat di dua dusun tersebut bisa menemukan kejelasan.

“Kami akan berusaha semampu kami, dan tetap akan berkordinasi dengan pemerintah kecamatan dan kabupaten bagaimana agar ada titik terang terkait masalah ini,” pungkasnya.

(Kadafi)

Leave A Reply

Your email address will not be published.