Media Platform Baru Sulawesi Barat

Logo Baru BKKBN: Cinta Sampai Kupu-kupu, Tak Ada Lagi Gambar Pasutri

0 500

TELEGRAPH.ID, MAMUJU – Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana Nasional (BKKBN) kini berganti logo. Tak ada lagi pasutri yang berpegang tangan.

BKKBN sendiri sudah tiga kali mengalami rebranding logo, mulai tahun 1970, kemudian tahun 2009 dan 2010 dan terakhir tahun ini.

Plt Kepala Perwakilan BKKBN Sulawesi Barat, Walfaidhin menuturkan, logo baru BKKBN tersusun dari beberapa komponen: Tak Terbatas, Cinta, Kupu-kupu dan Merangkul.

“Logo baru BKKBN membentuk satu kesatuan harmonis yang saling mengisi dengan warna biru yang elegan yang melambangkan kestabilan dalam menjadi partner perencanaan keluarga dan masyarakat,” tutur Walfaidhin saat konferensi pers di kantor BKKBN Jl Abd Malik Pattana Endeng, Mamuju, Jumat (6/3/2020).

Tak terbatas, bermakna pencapaian harus direncanakan tanpa batas, setiap jatuh harus bangun tanpa henti. Begitupun BKKBN tanpa lelah akan terus menjadi partner keluarga dan masyarakat.

Kemudian bentuk cinta yaitu hati. Merepresentasikan bahwa awal dari sebuah perencanaan adalah dari kasih sayang keluarga dan keharmonisan keluarga yang didukung dengan lingkungan yang selalu mensupport.

“Kupu-kupu adalah lambang perencanaan dan proses. Dapat dilihat dari proses metamorfosis kupu-kupu dari seekor ulat hingga menjadi kupu-kupu yang indah,” jelasnya.

Sementara, Merangkul bermakna BKKBN akan selalu berusaha untuk merangkul memfasilitasi dan menjadi partner dalam setiap perencanaan yang dilakukan oleh keluarga dan masyarakat dari masa kanak-kanak sampai dewasa.

Lebih lanjut Walfaidhin menjelaskan, Hal ini bertujuan agar BKKBN dapat menyasar anak-anak muda yang kelak akan menjadi pasangan usia subur.

Walfaidhin juga sampaikan rebranding nama Program Kependudukan, Keluarga Berencana dan Pembangunan Keluarga (KKBPK) menjadi Pembangunan Keluarga, Kependudukan, dan Keluarga Berencana (Banggakencana).

“Pergantiannya karena menyesuaikan kondisi masyarakat. KKBPK sulit disebutkan dan dibaca masyarakat sehingga tidak optimal, apalagi kaum milenial, makanya muncul penamaan baru menjadi Banggakencana dengan harapan gampang disebut masyarakat dan target kinerja BKKBN lebih optimal,” pungkasnya.

(ILU)


Leave A Reply

Your email address will not be published.