Media Platform Baru Sulawesi Barat

Gus Fayyadl dan Doa untuk Petani Beroangin di Makam Imam Lapeo

0 317

Gus Fayyadl santri tulen, cucu almagfurlah KH. Hasan Abdul Wafie, pencipta shalawat Nahdliyyah, mbahnya adalah sahabat seperjuangan almagfurlah KH. Maimoen Zubaer (Mbah Moen).

Nama lengkapnya adalah Muhammad Al-Fayyadl, alumni pondok pesantren Annuqayah guluk-guluk Sumenep Jawa Timur, S1 Filsafat UIN Sunan Kalijaga Jogja lulusan S2 Filsafat Universite De Paris, Prancis.

Penulis pertama kali mengenal namanya saat membuka lembaran-lembaran buku-Derrida-yang ia tulis sekitaran tahun 2009. Gus Fayyadl mengkaji pemikiran Jaques Derrida, seorang filsuf Prancis yang meruntuhkan bangunan epistemologi modern dengan nalar “Dekonstruksi-nya”. Gus Fayyadl adalah Intelektual-aktivis yang keilmuannya tidak menjadi menara gading.

Gus Fayyadl cukup fasih dengan kajian nash-nash Alquran, hadits, fiqh, ushul fiqh, kaidah nahwu sharaf, ilmu mantiq, tasawuf, tauhid. Di jagad epistemologi, dari filsafat kuno, klasik dan kontemporer, baik yang berkiblat di barat hingga ke timur. Ia cukup fasih menuliskan dan menjelaskannya.

Cakrawala ilmu pengetahuan Gus Fayyadl, tidak sebatas ilmu untuk ilmu, melainkan keilmuannya tersebut ia praksiskan dengan hidup menderita–berjuang bersama rakyat, yang haknya dirampas oleh pemilik modal dan penguasa tiran.

Ia akan dengan lantang melawan oligarki dan bujuk rayu modal. Baginya, keadilan adalah sesuatu yang terus harus diperjuangkan. Jejak-jejak perjuangannya bersama kaum mustadlafin, sedikit banyak bisa kita telusuri dari sejumlah pemberitaan dan cerita dari kawan-kawan aktivis gerakan yang tahu siapa sosok anak muda Nahdliyyin asal Probolinggo tersebut.

Saat masih menjadi kordinator nasional Front Nahdliyyin untuk Kedaulatan Sumber Daya Alam (FNKSDA) Gus Fayyadl gigih membela petani Kendeng Jawa Tengah melawan gurita korporat PT. Semen Indonesia. Ia juga bersama rakyat di Kampung Pulo menolak reklamasi teluk di Jakarta utara. Ketulusannya siang dan malam membela rakyat di Kabupaten Kulon Progo Jogjakarta, saat pemukiman dan lahan rakyat coba diambil paksa oleh PT. Angkasa Pura II yang membangun New Yogyakarta International Air Port (NYIA).

Bahkan, ia tak akan segan mengkritik para tokoh agama, yang menggunakan jubah agama untuk melegitimasi penindasan kepada rakyat, meski itu dari kalangan Nahdliyyin sendiri.

Saat berkunjung ke tanah Mandar beberapa bulan lalu, ia menyambangi Dusun Indo Andi di Desa Beroangin Kecamatan Mapilli, Polewali Mandar. Ditemani sejumlah aktivis gerakan di bumi Tipalayo, merasakan langsung jeritan para petani Beroangin yang lahannya tengah terancam oleh rencana peternakan sapi berskala besar yang disponsori Pemprov Sulawesi Barat.

Di Masjid Babul Jannah Dusun Indo Andi Beroangin, Gus Fayyadl diminta oleh jamaah masjid membawakan khutbah jumat. Isi khutbahnya menggetarkan jiwa, membangkitkan jiwa perlawanan, dengan menyampaikan kandungan ayat suci Al-quran, yang mengingatkan azab bagi siapa saja yang mengambil tanah yang bukan hak miliknya, meski itu hanya sejengkal.

Selepas berdoa bersama dengan petani, ia kemudian menuju Desa Lapeo, Kecamatan Campalagian, menziarahi makam tokoh sufi Mandar, Almagfurlah KH. Muhammad Thahir (Imam Lapeo), Ulama Sufi yang semasa hidup beliau juga adalah pengayom rakyat kecil, didampingi sejumlah aktivis dari Gusdurian, Lembaga Inspirasi Advokasi Rakyat (LIAR) Sulawesi Barat, PMII, GP Ansor, komunitas TUO Wonomulyo, dan Serikat Pengorganisasian Rakyat (SPR).

Di makam Imam Lapeo, Gus Fayyadl nyekar, doanya dikhususkan untuk kemudahan perjuangan petani Beroangin di Dusun Indo Andi, dan seluruh rakyat tertindas yang tengah berjuang mempertahankan haknya dari praktek penindasan.

Dari Lapeo, kemudian Gus Fayyadl berkunjung ke Desa Pambusuang, Kecamatan Balanipa, bersilaturrahim dengan para Annangguru, diantaranya di kediaman AGH Abdul Syahid Rasyid dan Habib Assayyid Ahmad Fadl Al-Mahdaly.

Gus Fayyadl waktu itu, melihat dari dekat suasana kampung nahdliyyin pesisir Pambusuang yang khas, yang menurutnya kurang lebih sama suasananya dikampung halamannya di Probolinggo Jawa Timur, yang juga kampung pesisir dan lekat dengan sebutan kampung santri.

Gus Fayyadl, melihat kampung santri Pambusuang yang unik dan tak lazim seperti kampung santri kebanyakan. Para santri nginap di kampung, di rumah-rumah warga, yang tak jauh dari rumah para Annangguru.

Sehari sebelumnya, ia menjadi narasumber diskusi lintas aktivis yang dihelat di kampus Instititut Agama Islam (IAI) DDI Polewali dan Universitas Al-Asyariah Mandar (Unasman).

Yang mengharukan, tatkala panitia menawarinya untuk nginap di hotel, ia dengan santun menolak fasilitas itu. Ia lebih memilih bermalam di kantor LIAR Sulawesi Barat, di Desa Banua Baru, Wonomulyo, yang fasilitas kamarnya terbilang sederhana. Bukan kasur empuk (spring bed) dan tak ada pendingin ruangan. Hanya kipas angin biasa. Gus Fayyadl malam itu baru saja berdiskusi santai dengan sejumlah aktivis, termasuk hadir dewan pendiri LIAR Sulbar, ayahanda Aswan Achsa.

“Nggak usah daeng, disini aja tidurnya, lebih baik uang itu kita pake ngopi di kantor ini (baca:LIAR), sisanya kita pakai jalan besok ke kampung itu yang kita diskusikan tadi, Beroangin” tutur mantan presidium Front Nahdliyyin untuk Kedaulatan Sumber Daya Alam (FNKSDA), yang penulis masih ingat persis.

Yah, itulah catatan singkat tentang Gus Fayyadl saat berkunjung ke Tanah Mandar. Pribadi sederhana, cerdas dan hidup apa adanya. Semoga suatu saat bisa kembali berjumpa dan meraup ilmu darinya.

Sehat selalu gus

Muhammad Arif (alumni PMII Polman)

Polewali, 14 Desember 2019

Leave A Reply

Your email address will not be published.